Menu Close

APAKAH STRESS MEMPENGARUHI KESEHATAN KITA?


Seringkali penyebab kita sakit sulit untuk diketahui, sementara hasil diagnostic yang dilakukan pada kita semuanya menunjukkan hasil dalam batas normal. Pengalaman penulis mendapati pasien yang dirujuk padanya, setelah dilakukan kajian didapatkan bahwa stress merupakan akar permasalahan dari sakit pasien.  

Stress adalah respon tubuh yang tidak spesifik pada setiap kebutuhan tubuh yang terganggu oleh fenomena universal yang terjadi dalam kehidupan sehari hari dan tidak dapat dihindari. Setiap orang mengalami stress. Dampak dari stress secara total pada individu yaitu fisik, psikologis, intelektual (Rasmund, 2004). Sumber stress bersifat psikologis dan situasional seperti stress berhubungan dengan pekerjaan, mempersiapkan ujian, menyeimbangkan keuangan keluarga,merawat anak atau orang terkasih  yang sedang sakit, dan  sebagainya.. Kondisi ini memiliki dampak mendalam pada kesehatan fisik dan emosional kita. Pengalaman stress  berasal dari 3 sumber (Davis, Martha , 1995 ) yaitu:

  1. Lingkungan : cuaca, suara, kepadatan , interpersonal, rasa aman, harga diri dan sebagainya.
  2. Fisiologis : pertumbuhan remaja, menopause, menua, penyakit, kecelakaan, nutrisi, kurang tidur.
  3. Pikiran : Otak menafsirkan dan menerjemahkan perubahan yang kompleks pada lingkungan dan menetapkan kapan menekan tombol panik.

Penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association (2007a, 2007b, 2010 ) mendapatkan berbagai gejala yang diakibatkan stress  yaitu

  1. Mudah tersinggung atau marah
  2. Merasa gugup atau sedih
  3. Rendahnya minat, motivasi, atau tenaga
  4. Merasa ingin menangis
  5. Tidak semuanya
  1. Kelelahan
  2. Sakit kepala
  3. Sakit perut atau gangguan pencernaan
  4. Ketegangan otot
  5. Perubahan nafsu makan
  6. Menggertakkan gigi
  7. Perubahan gairah seks
  8. Merasakan pingsan atau pusing
  9. Kelelahan

Peneliti Stress, Hans Selye  (1976 ) menciptakan istilah sindrom adaptasi menyeluruh (General Adaptation  Syndrome (GAS)) untuk  menjelaskan pola respon biologis secara umum terhadap stress yang berlebihan atau berkepanjangan. Tubuh kita merespon berbagai stressor yang tidak menyenangkan dengan cara yang hampir sama, bagaikan sistem alarm yang tidak akan mati sampai energinya habis.

Tiga tahap reaksi  yang terjadi terhadap stress yang diterima yaitu :  

  1. Tahap reaksi waspada ( alarm reaction ):   Pertahanan pertama tubuh terhadap stressor yang mengancam adalah menggerakkan tubuh untuk  bersiap menghadapi tantangan. Tubuh bereaksi dengan respon komplek dan terintegrasi yang melibatkan aktivasi sistem saraf simpatis, yang meningkatkan stimulasi tubuh dan memicu pelepasan hormone stress oleh sistem endokrin. Perubahan kondisi tubuh karena stress yang berhubungan dengan reaksi waspada adalah
    1. Pelepasan Kortikosteroid, berfungsi untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap stress, membantu perkembangan otot, memicu hati untuk melepaskan gula yang memberi energi untuk menghadapi stressor yang mengancam atau situasi darurat. Juga membantu tubuh mempertahankan diri dari reaksi alergi atau inflamasi.
    2. Pelepasan Epinefrin dan norepinefrin, berfungsi untuk menggerakkan tubuh menghadapi stressor dengan meningkatkan kerja jantung, dan menstimulasi hati untuk melepas cadangan glukosa.
    3. Peningkatan kerja jantung, sistem pernapasan, dan tekanan darah
    4. Darah mengalir dari organ dalam menuju otot sketlatal (otot rangka tubuh)
    5. Pencernaan terhambat
    6. Pelepasan gula oleh hati
    7. Kemungkinan terjadi penggumpalan darah meningkat.

Begitu stressor hilang tubuh kembali normal.

Apabila sressor berlangsung dalam jangka lama, maka tubuh akan masuk periode,

  1. Tahap Reaksi resistensi( resistance stage )atau tahap adaptasi.

Pelepasan hormone stress terus berada pada tingkat yang tinggi, namun tidak setinggi reaksi waspada. Pada tahap ini  tubuh mencoba memperbaharui energi yang telah digunakan untuk memperbaiki kerusakan.

Apabila stress masih berlanjut, maka tubuh masuk pada tahap berikutnya yaitu:

  1. Tahap reaksi kelelahan ( exhaustin stage )

Setiap individu memiliki daya tahan berbeda. Stress yang berkepanjangan terhadap sumber daya yang dimiliki tubuh, akan mengakibatkan kinerja jantung dann tingkat pernapasan mengalami penurunan. Kondisi ini bisa membentuk Selye sebagai penyakit adaptasi (disease of adaptation), mulai dari penyakit alergi sampai penyakit jantung, hingga kematian.

Jadi jelas bahwa stress kronis dapat merusak kesehatan kita, membuat kita rentan terhadap penyakit dan masalah kesehatan fisik lainnya.

Namun dampak stress tidak selalu buruk bila  seorang individu menerima stressor, mempersepsinya, dan meresponnya guna mencapai keseimbangan baru  yang disebut Eustress, dimana responnya sehat, positip, dan konstruktif. Namun stress dapat juga menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan yang disebut  distress (Prasetyo, 2006). Distress adalah respon terhadap stress yang tidak sehat, negative,  bersifat merusak, sehingga cenderung bereaksi berlebihan, bingung dan tidak dapat berperforma secara maksimal(Walker, J , 2002).

Bagaimana cara mengatasi stress?

Berpura pura masalah itu tidak ada adalah bentuk penyangkalan. Penyangkalan adalah  contoh coping  yang berfokus pada emosi  (emotion focused coping)(Lazarus &Foklman, 1984). Misalnya melakukan cara-cara yang dapat dengan segera  mengurangi dampak stressor, seperti menyangkal tentang keberadaan stressor , berkhayal,  dan sebagainya. Kondisi ini dapat berdampak buruk pada kesehatan karena membuat individu menghindar, tidak mematuhi, dan bersifat irasional namun secara emosional.

Apabila ini terjadi maka yang harus dilakukan adalah:

  1. Melakukan coping yang berfokus pada pemecahan masalah. Berupa strategi untuk menghadapi sumber stress secara langsung. Melakukan apapun untuk mengubah stressor atau memodifikasi reaksi sehingga dampak stressor berkurang.
  2. Harapan akan self efficacy (self efficacy  expentacies) yaitu harapan akan kemampuan kita dalam mengatasi masalah atau tantangan yang individu hadapi dimana hal ini akan membawa ketrampilan dan perubahan positip dalam hidup (Bandura , 2006). Rasa percaya diri akan menurunkan hormon stress, seperti keyakinan mendapat nilai baik akan mengurangi tingkat stress.
  3. Ketahanan psikologis (Psychological hardiness) Orang yang kuat secara psikologis  menganggap stressor  yang dihadapi sebagai  hal yang membuat hidup mereka menjadi lebih menarik dan lebih menantang, bukan sebagai hal yang membebani dengan tekanan.  Rasa memiliki kendali adalah faktor utama dalam ketahanan psikologis.

Sikap yang dibutuhkan di sini adalah :

  • Komitmen: percaya pada apa yang dilakukan
  • Tantangan: perubahan adalah normal.
  • Memiliki kendali atas hidup: keyakinan bahwa diri sendiri yang menentukan penghargaan atau hukuman atas hidup (Julian Rotter , 1966).
  1. Optimism Perlu melibatkan  aspek positif dari pengalaman manusia daripada kekurangannya. Pasien yang pesimis cenderung mengarah pada distress daripada pasien yang lebih optimis(Gill, Williams, Keefe, Beckham, 1990 ). Individu tidak bisa mengubah peristiwa yang terjadi dalam hidup, maka yang bisa diubah adalah tafsiran tentang peristiwa atas peristiwa tersebut. Berlatih dengan dialog internal sangat dibutuhkan.
  1. Dukungan Sosial Memiliki jaringan sosial yang  beragam dapat menyediakan dukunga sosial yang lebih luas dan hal ini dapat melindungi sistem kekebalan tubuh dengan bertindak sebagai penahan stress. Penelitian dari Universitas Chicago menyatakan bahwa kesepian berkorelasi dengan pengerasan arteri yang menyebabkan naiknya tekanan darah, inflamasi pada tubuh, sehingga dapat mengganngu proses belajar dan memori (Cacioppo; Patrick, W., 2008 )
  1. Ketrampilan relaksasi. Pemeliharaan kesehatan adalah fungsi utama otak.  Bagian tengah dari otak  yang mempercepat proses biokimia  saat individu terancam dapat diminta untuk memperlambat. Respon relaksasi adalah kebalikan dari respon stress dan dapat mengembalikan tubuh pada keadaan seimbang. Relaksasi dapat menjaga individu untuk tidak menggunakan semua tenaga vital  pada saat beraksi terhadap stress, justru mengembalikan proses, fisik, dan mental. Individu dapat belajar menyadari respon stressnya dan kemudian mengontrolnya.
  1. Bantuan professional  Konflik dan stress berkepanjangan akan menyebabkan gangguan mental yang lebih parah. Tidak perlu malu untuk datang pada professional bila gejala ini sudah sangat mengganggu hidup anda sehari-hari.  Disini individu akan diajak menemukan masalahnya, dan mendapatkan pemahaman tentang apa yang harus dilakukan. Kepercayaan dan komitment untuk bekerja sama yang diperlukan disini.

Stress ini masalah hidup yang normal, tinggal bagaimana kita mengolah stress ini menjadikan diri kita semakin tangguh, matang dan sehat. Pilihan ada pada diri kita masing masing. .

Penulis

Eli Susilowati, Psikolog Klinis

SIP 0074-1.7-1

NIA IPK 15.01.718

DAFTAR PUSTAKA

  1. .Nevid, Jeffrey, S. Psikologi Abnormal di Dunia Yang Terus Berubah, edisi kesembilan, 2018 , penerbit Erlangga
  2. Arief, Iman Setiadi, Psikologi Positif : Pendekatan Saintifik Menuju Kebahagiaan , 2016, PT Gramedia Jakarta
  3. Davis, Marta , Panduan Relaksasi dab Reduksi Stress ( The relaxation and stress reduction workbook )/ Martha Davis,Elizabeth Robbins Eshelman, Matthew McKay; alih bahasa , Budi Anna Keliat, Achir Yani  S Hamid;editor, Yasmin Asih-Ed 3- Jakarta:EGC, 1995
  4. Rasmud, Stress, Koping , dan Adaptasi, (2004 ), Agung Seto, Jakarta
  5. Prasetyo, ID, H, Psikoneuroimunologi Untuk Keperawatan , ed 2.UNSPress, Surakarta
  6. Berita Ilmu keperawatan , ISSN 1979, vo 2 no 1, Maret 2009
  7. Walker,J, Distrees Series Adolescent Stress and Depression, 2002, Minnesotaa University

Bagikan Berita, Share News

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on email
Share on twitter

Banyak alumni kami yang telah sukses meraih pekerjaan impiannya , bergabunglah bersama kami di STIKes Panti Waluya Malang.

Berita Terkini

STIKES PANTI WALUYA MALANG
Jalan Yulius Usman No. 62 Malang
Telp : 0341-369003
Email : [email protected]
Senin-Jumat 06:00 - 18:00 WIB